Jika sedang berhenti karena lampu merah, cobalah perhatikan orang-orang di sekeliling anda. Di samping pengemis dan pedagang asongan yang menghampiri kendaraan anda, ada satu dua orang yang sibuk meneliti buku bersampul merah sambil matanya mengamati plat nomor kendaraan anda.
Ya, dialah debt collector. Penagih hutang.
Debt collector ada dua macam: penagih yang datang ke rumah-rumah, dan juga yang mencegat di jalan. Yang disebut terakhirlah yang sering ‘mangkal’ di perempatan jalan atau tempat strategis bagi dia.
Bagaimana penagih ini beraksi? Setiap penagih ini dibekali dengan senjata andalan, kebanggaan mereka, Buku Merah. Di dalam buku ini tertera plat nomor-plat nomor kendaran yang nunggak bayar tiga bulan atau lebih. Dealer dan lembaga pembiayaan lain biasa menggunakan jasa debt collector untuk yang menagih mereka yang telat membayar ini.
Saat nomor yang tertera di buku itu cocok dengan kendaraan anda, proses kejar-mengejar dimulai. Ada yang berhasil dikejar, ada yang kabur melarikan diri. Berhasil dikejar dan dicegat, nasib apes bagi anda.
Alamat pulang jalan kaki deh.
Yang senang, tentu saja debt collector. Setiap tangkapan, biasa ‘dihargai’ berdasar jenis kendaraan. Sebagai contoh, Yamaha Mio dihargai 700-900 ribu rupiah. Tiger, Scorpio, atau V-ixion dihargai 1,2-1,5 juta. Mobil lebih mahal lagi.
Jika seminggu saja dapat menangkap tiga sampai empat motor saja, sudah cukup untuk membiayai hidup sebulan.
Menyenangkan, bukan? Tidak selalu. Ada-ada saja cara orang menghindari dan mencegah kendaraannya diambil. Ada yang sanggup mengganti plat nomor hanya dalam dua menit, ada yang ngotot ngajak berantem, ada yang tidak dapat dikejar. Kalau sudah begitu, tentu saja ‘kuat-kuatan’, saling unjuk siapa yang lebih hebat.
Yang paling ngotot, dialah yang menang.